generasi penerus bangsa dibawah generasi gue

kadang gue berfikir, seharusnya gue bersyukur akan masa kecil gue yang hidup dalam kesederhanaan, gue masih bisa mengikuti tren yang berlaku ya walaupun hanya “ikut dasarnya”. jadi gue bisa menghargai apapun yang gue dapat sekarang, baik itu kelebihan da kekurangannya. ini semua mungkin dikarenakan lingkungan keluarga dan pergaulan gue yang bisa gue buat belajar

gue sebenernya konsen sama generasi penerus bangsa dibawah gue, masih bisa mengenyam pendidikan dasar, yaitu SD, gue melihat bahwa konsep perlakuan terhadap mereka itu belom pantas, mereka dibiarkan terlena oleh canggihnya teknologi, sehingga mereka lebih memilih sosialisasi melalui dunia maya daripada sosialisasi langsung tatap muka. ini sebenernya sangat tidak bagus untuk perkembangan pribadi mereka, mereka gak bisa membiasaka diri untuk berinteraksi dengan yang lain secara langsung, mereka cenderung “autis” dengan gadget mereka. padahal seharusnya seusia mereka, harusnya mereka lebih banyak bergerak, bereksplorasi, dan mencari hal-hal baru secara langsung, bukannya mereka hanya diam di kamar, tanpa tau kondisi sebenarnya diluar. mereka udah mendapatkan sesuatu yang belom pantas untuk mereka gunakan dan mereka dapatkan diusia mereka, gue takutnya itu menggangu psikis mereka. dan ini sangat menyimpang dari teori perkembangan diri dibidang sosiologi (ah, teori hanya teori, kayak gak tau indonesia aja. semuanya dilanggar dan jarang dilakukan, bahkan cenderung bodo amat)

gue sendiri bersyukur bisa hidup di jaman peralihan, yaitu dari jaman tradisional ke apa ya namanya, gue juga lupa, kalo gak salah sih digitalisasi, pokoknya jaman sekarang itu lebih cenderung ke perubahan yang seba cepat, baik itu tren, teknologi, fashion, dan gaya hidup. mungkin aja kalo pas gue masih SD, gue taunya, AT mahmud, pa kasur, si komo, miki mos, dan semua yang emang seharusnya untuk usia gue.

nah sekarang? coba aja tanya anak SD di Jakarta, apakah mereka tau Enggrang, kincir air, museum-museum dijakarta, layangan, dan macam-macam permainan, kebudayaan tradisional dan semua yang dilakukan anak SD pada jaman sebelom taun 2004? pasti kebanyakan enggak. yang mereka tau itu Justin Bieber, Selena gomez, SUJU beserta para artis korea, masalh cinta-cintaan yang harusnya mereka belom boleh alami. soalnya mereka udah terlena sama globaliasai yang terlalu cepat berubah dan mereka memang diberikan kebebasan untuk mengakses semua itu (mungkin) tanpa pengawasan yang sepertin dilakukan para orang tua terdahulu. memang mungkin paradigmanya sudah berbeda, tapi tetep aja, yang namanya anak SD ya anak SD, mind set nya harus anak SD. gak bisa anak SD di mindset seperti anak SMA, beda jaman dan emang belom waktunya.

waktu itu gue sempet ngobrol sama temen gue pas jalan ke Pacific Place dan ke KidzStation, gue ngobrol soal mainan apa yang dulu pernah dimainin. dan gue pun mendapat jawaban yang menarik, bahwa waktu kecil dia jarang beli mainan yang dijual di toko mainan Mall, lebih cenderung ke mainan pasar pagi yang lebih tradisional namun sangat banyak mengandung nilai edukasi dibanding mainan di toko mainan yang branded dan yang (mungkin) sebenernya gak ada nilai edukasinya. bahkan gue sempet bilang “nanti kalo kita udah punya anak, pas SD mereka udah punya pacar kali yah? kita aja pas SMA baru punya, padahal bonyok kita dulu abis kuliah baru pacaran” dari situ gue berfikir gimana nanti kalo beneran kejadian? amit-amit dah ah. masa iya pas lulus SMA mereka lebih milih kawin daripada lanjutin pendidikan? jangan sampe deh ah.

tapi dengan melihat perkembangan jaman yang seperti sekarang? dulu pas gue jaman SD, yang gue dan temen-teme gue pikirin adalah main-main dan main dilapangan, atau kerumah salahsatu diantara kita. gak betah deh di rumah, kalo yang cowo pasti main bola. nah sekarang? jaman SD aja udah megang BB, emangnya mereka udah bisnis? perlu gitu pake BB dan gadget-gadget yang sebenernya gak ditujukan pada mereka? kalo mereka udah kuliah, atau udah punya usaha yang mereka kerjain sendiri, its okay lah. menurut gue itu mereka hanya kurang perhatian, banyak dari mereka yang “dititipkan” oleh orangtuanya ke baby sitter sehingga mereka lebih deket sama para baby sitter daripada orangtua mereka sendiri, dan itu menyedihkan.

kayaknya segitu aja deh, thats whats on my mind, thats my opinion, pasti ada pro dan kontranya, jadi gue menerima kritik dan sarannya ya, 🙂

Iklan

Perihal garudasenayan
bisa dibilang penulis karena gue punya blog. bisa dibilang mahasiswa karena gue masih kuliah, bisa dibilang RailFans karena gue suka banget sama kereta, bisa juga lo bilang gue ganteng karena nyokap gua bilang begitu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: