harga memang menentukan kualitas atau……

Harga menentukan kualitas, sebuah pepatah yang mungkin hingga sekarang masih dimaklumi oleh sebagian besar masyarakat ketika membeli sebuah barang ataupun jasa. Contohnya ketika seseorang membeli tas dengan harga murah, ketika rusak dalam waktu sebentar maka sang pembeli akan memahami dan tidak akan mengeluh karena memang barang yang dibeli adalah barang yang harganya murah dan dengan otomatis tidak bisa mengharap kualitas yang baik. Ketika kita membeli sebuah barang dengan harga mahal, maka kita akan memiliki ekpektasi bahwa harga yang mahal akan diikuti oleh kualitas yang baik. Namun itu tidak selamanya benar. Karena sesungguhnya kualitas itu dilandasi oleh kepuasan dan kepuasan. Ketika kita membeli sebuah barang dan mendapatkan value maka kita akan cenderung menjadi loyal. Contohnya seorang gamer akan rela mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk membeli console dan aksesoris untuk mendapatkan gaming experience yang maksimal dan dimana itu menjadi harga yang tidak wajar untuk orang lain yang bukan gamer

Dikasus lain, harga sembako, ini adalah hal yang dibutuhkan oleh orang banyak untuk memenuhi kebutuhan sehari hari, maka mau tidak mau harus beli dengan harga berapapun. Ketika menjelang lebaran, harga sembako yang melambung seperti menjadi sebuah kewajaran. Dan masyarakat cenderung sudah memahami dan sudah antisipasi dari jauh hari, karena mau tidak mau harus membeli sembako untuk kebutuhan. Disini kepuasan bukanlah sebuah hal penting, karena ini sebuah kebutuhan sehari hari yang harus dipenuhi, harga berapapun pasti akan dibeli walaupun kualitasnya sama saja seperti sebelum musim lebaran tib

Dari 2 contoh gamer dan sembako, gue melihat sebuah sisi menarik yang terjadi pada saat lebaran, yaitu mudik. Mudik sebuah kegiatan yang sudah menjadi sebuah tradisi di Indonesia, khususnya pulau jawa. mereka mudik menggunakan baik kendaraan umum seperti kereta api, pesawat, bus dan kapal laut maupun kendaraan pribadi. ada keseruan dibalik mudik bersama keluarga.

sebagai seorang pemerhati perkereta apian indonesia, jadi gue akan melihat kasus mudik tahun ini yang menggunakan kereta api. gue menerima sebuah komentar pedes dari temen gue tentang kesulitan dapet tiket kereta buat mudik. kebanyakan dari mereka kehabisan tiket kelas ekonomi yang notabene harganya jauh dibawah normal, karena dapet subsidi pemerintah, mereka juga bilang ke gue akhirnya mereka terpaksa beli kelas bisnis dan bahkan eksekutif.

kata “Terpaksa beli” yang keluar dari mulut mereka membuat gue sadar, apa jangan jangan sebenernya kereta itu pelayanannya ga seberapa bagus tapi harganya mahal. atau karena stereotype masyarakat yang memang menjadikan kerera api sebagai “angkutan murah” sehingga pada akhirnya ketika harganya melambung tinggi dibilang tidak wajar dan terpaksa beli dengan harga mahal.

gue melihat juga paradigma kereta api itu “angkutan murah” dan harganya gaboleh mahal itu menarik. karena  hanya PT Kereta Api indonesia  yang notabene sebagai perusahaan BUMN yang menaungi semua operasional perkereta apian indonesia tidak boleh menetapkan harga yang mahal. padahal Garuda Indonesia, DAMRI dan PELNI juga perusahaan BUMN dbidang transportasi dan harga mereka termasuk mahal, namun masyarakat masih bisa memahami. entah apa yang menjadi tolak ukur apa yang boleh mahal dan apa yang gaboleh mahal. ketika orang terpaksa beli tiket pesawat dengan harga mahal, mereka akan bilang “wajar mahal, kan pesawat blablablaaa” pas naik ferry juga mereka akan bilang hal yang sama “wajar mahal, kan ferry blablablaaaaahhh” tapi kenapa kereta api seperti dianak tirikan? kenapa cuma kereta api yang diprotes ketika menetapkan harga yang tinggi? PT KAI, Garuda Indonesia, DAMRI dan PELNI juga perusahaan BUMN lohh brohh

dengan kondisi kereta api yang sudah seperti sekarang sekarang gue heran masih ada yang nuntut kereta api harga tiketnya harus murah. “ARE YOU KIDDING ME?” ketika harga murah, fasilitas sarana dan prasarana jelek pada ngomel. sekarang fasilitas sarana prasarana udah dperbaiki, wajar dong harganya naik? harga menentukan kualitas. iya bener, harga menentukan kualitas. tapi harus diperhatikan juga, apa jangan jangan mutu kualitas yang diberikan PT KAI itu dibawah standar sehingga memunculkan pandangan bahwa harganya tidak sesuai dengan kualitas pelayanan yang diberikan?

pihak KAI yang kini sudah ditinggal Ignasius Jonan menghadapi tantangan mengubah pandangan masyarakat bahwa kereta api itu bukan kendaraan umum yang murah lagi. bawah kereta api indonesia sudah berubah, sudah tidak jorok dan kotor seperti dulu lagi, tidak ada lagi penumpang bejubelan ketika masuk stasiun.

kereta api yang “katanya” sudah sejajar dengan pesawat sehingga sudah bisa mematok harga tinggi, apakah benar?

dalam hal ini gue berusaha melihat masalah setidaknya dari 2 sisi, yaitu pihak konsumen dan pihak operator. 22nya punya alasan yang kuat mengenai harga dan kualitas ini. menurut gue yang harus dicari adalah keseimbangan. dan gue yakin hal ini akan terselesaikan dengan semakin pintarnya masyarakat indonesia 🙂

Iklan

Perihal garudasenayan
bisa dibilang penulis karena gue punya blog. bisa dibilang mahasiswa karena gue masih kuliah, bisa dibilang RailFans karena gue suka banget sama kereta, bisa juga lo bilang gue ganteng karena nyokap gua bilang begitu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: