Terima Kasih Banyak, Babe Jonan

TERIMA KASIH.

Hanya itu yang bisa gue ucapkan ke Ignasius Jonan, seorang sosok yang mengubah cara berfikir gue 6 tahun belakangan sejak dia mengemban tugas sebagai Direktur Utama PT. Kereta Api Indonesia. Jonan adalah satu satunya menteri yang gue ikuti sepak terjangnya, I HATE POLITICS, I TRULY AM. Gue gapernah peduli dan males ngikutin politik indonesia dan luar negeri. Tapi semua berubah ketika Jonan naik jabatan menjadi Menteri Perhubungan di awal kabinet jokowi pada Oktober 2014 dan berakhir kemarin 27 Juli 2016 karena terkena reshuffle kabinet.

Ignasius Jonan, yang membawa banyak perubahan di dunia Perkeretaapian Indonesia, beliau membawa Revolusi mental pegawai PT KAI, sistem penghilangan tiket berdiri untuk KA Jarak Jauh sebuah sistem yang memanusiakan manusia di kereta api, sistem online ticketing dan reservasi H-90, nama di tiket harus sesuai dengan Identitas dan banyak lagi perubahan yang dibawa oleh Lulusan Akuntansi Universitas Airlangga ini

Babe, itulah sebutan gue buat Pak Jonan, karena babe jonan adalah sosok yang ramah kepada penumpang terutama anak anak muda. Babe Jonan adalah sosok yang tegas, gak neko neko, humoris dan apa adanya. Itu terbukti dengan perubahan yang dibawa ke kereta api, gak sembarangan orang bisa mereformasi sebuah perusahaan sebesar PT. KAI. Babe jonan ditunjuk jadi Menteri Perhubungan pada awal Kabinet Kerja Presiden ke 7 Republik Indonesia. Jujur gue kaget, gue merasa babe belom pantes buat menjabat RI 36, kenapa? Karena babe baru berkecimpung di dunia perkeretaapian indonesia selama 5 tahun 8 bulan. Babe jonan belom ada pengalaman di bidang transportasi Darat, laut dan Udara.

Tapi apakah prestasi dan kinerja babe buruk? Menurut gue pada awalnya iya, seperti kasus AirAsia Desember 2014, delayed Lion Air November 2015 dan kasus pelarangan Ojek Online desember 2015. Tapi itu hanya masalah penanganan saja, cara penanganan babe jonan menurut gue masih tergesa gesa, ya walaupun memang tujuan dia baik, untuk keselamatan para penumpang, tapi hanya saja cara penyampaiannya salah.

Bagaimana dengan Brexit? Banyak yang bilang Jonan bertanggung jawab akan hal ini. Menurut gue? TIDAK. Siapapun menteri nya, brexit kan tetap kejadian. Brexit adalah sebuah kejadian yang disebabkan oleh pemaksaan penggunaan jalur tol baru dan belum ada perencanaan yang matang.

Kemudian apakah Jonan berhasil membuat sesuatu pada saat menjadi RI 36? Seperti yang dia lakukan di PT. KAI, Jonan membawa revolusi mental di kementrian perhubungan. Banyak sikap tegas yang dia lakukan dan tetap berpegang teguh kepada pendiriannya. Transportasi di Indonesia menjadi lebih tertata dan para penumpang lebih dimanusiakan oleh para penyelenggara Jasa Angkutan transportasi, terlihat dari lebih rapih nya kondisi Stasiun, Terminal dan Bandara. 

Lalu, apakah jonan pantas untuk dilengserkan pada reshuffle kedua pemerintahan Jokowi? Menurut gue tidak, seharusnya Jonan dibiarkan tetap mengemban tugas sebagai menteri perhubungan hingga akhir masa jabatan di 2019 mendatang. Menurut gue Jonan kena reshuffle karena Jonan adalah orang yang menghadang proyek KA Cepat Jakarta – Bandung yang memang dari awal dia tidak setuju akan pembangunan proyek yang diusulkan oleh Menteri BUMN Rini Soemarmo. Entah benar atau tidak, tapi gue merasa hanya itu alasan yang logis kenapa Babe Jonan dilengserkan di perombakan kabinet jokowi.

terima kasih Babe, selama 5 tahun 8 bulan mengemban amanat sebagai KAI 1 dan mengemban tugas sebagai Menteri Perhubungan selama 1 tahun 9 Bulan, Jonan bekerja 24 jam sehari dan 7 hari seminggu untuk negara mulai dari Februari 2009 hingga Juli 2016. terima kasih atas pengabdian bapak yang bekerja dengan sepenuh hati untuk Bangsa Indonesia yang tercinta.

 

TERIMA KASIH DAN SELAMAT JALAN BABE JONAN

Pratito Wibowo

Surat Terbuka untuk jajaran direksi PT. Kereta Api Indonesia (Persero)

Kepada Yth

Jajaran Direksi PT . Kereta Api Indonesia (Persero)
Bandung, Jawa Barat

Assalamualaikum wr.wb.

Saya Pratito Wibowo, saya sebagai pecinta kereta api dan juga pengguna kereta api jarak jauh dan juga CommuterLine Jabodetabek. ingin menyampaikan kepedulian saya kepada perkeretaapian Indonesia. Semakin banyaknnya pertentangan di media massa tentang pemberian PSO (Public Service Obligation) karena adanya kenaikan harga tiket di kereta api ekonomi jarak jauh

Harga menentukan kualitas, sebuah pepatah yang mungkin hingga sekarang masih dimaklumi oleh sebagian besar masyarakat ketika membeli sebuah barang ataupun jasa. Contohnya ketika seseorang membeli tas dengan harga murah, ketika rusak dalam waktu sebentar maka sang pembeli akan memahami dan tidak akan mengeluh karena memang barang yang dibeli adalah barang yang harganya murah dan dengan otomatis tidak bisa mengharap kualitas yang baik. Ketika kita membeli sebuah barang dengan harga mahal, maka kita akan memiliki ekpektasi bahwa harga yang mahal akan diikuti oleh kualitas yang baik. Namun itu tidak selamanya benar. Karena sesungguhnya kualitas itu dilandasi oleh kepuasan dan kepuasan. Ketika kita membeli sebuah barang dan mendapatkan value maka kita akan cenderung menjadi loyal. Contohnya seorang gamer akan rela mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk membeli console dan aksesoris untuk mendapatkan gaming experience yang maksimal dan dimana itu menjadi harga yang tidak wajar untuk orang lain yang bukan gamer

Dikasus lain, harga sembako, ini adalah hal yang dibutuhkan oleh orang banyak untuk memenuhi kebutuhan sehari hari, maka mau tidak mau harus beli dengan harga berapapun. Ketika menjelang lebaran, harga sembako yang melambung seperti menjadi sebuah kewajaran. Dan masyarakat cenderung sudah memahami dan sudah antisipasi dari jauh hari, karena mau tidak mau harus membeli sembako untuk kebutuhan. Disini kepuasan bukanlah sebuah hal penting, karena ini sebuah kebutuhan sehari hari yang harus dipenuhi, harga berapapun pasti akan dibeli walaupun kualitasnya sama saja seperti sebelum musim lebaran tib

Dari dua contoh gamer dan sembako, saya melihat sebuah sisi menarik yang terjadi pada saat lebaran, yaitu mudik. Mudik sebuah kegiatan yang sudah menjadi sebuah tradisi di Indonesia, khususnya pulau jawa. mereka mudik menggunakan baik kendaraan umum seperti kereta api, pesawat, bus dan kapal laut maupun kendaraan pribadi. ada keseruan dibalik mudik bersama keluarga.

sebagai seorang pemerhati perkeretaapian indonesia, jadi saya akan melihat kasus mudik tahun 2014 yang menggunakan kereta api. saya menerima sebuah komentar pedas dari temen saya tentang kesulitan dapet tiket kereta buat mudik. kebanyakan dari mereka kehabisan tiket kelas ekonomi yang notabene harganya jauh dibawah normal, karena dapet subsidi pemerintah, mereka juga bilang ke saya akhirnya mereka terpaksa beli kelas bisnis dan bahkan eksekutif.

Kata “Terpaksa beli” yang keluar dari mulut mereka membuat saya sadar, apa jangan jangan sebenernya kereta itu pelayanannya ga seberapa bagus tapi harganya mahal. atau karena stereotype masyarakat yang memang menjadikan kerera api sebagai “angkutan murah” sehingga pada akhirnya ketika harganya melambung tinggi dibilang tidak wajar dan terpaksa beli dengan harga mahal.

saya melihat juga paradigma kereta api itu “angkutan murah” dan harganya tidak boleh mahal itu menarik. karena  hanya PT Kereta Api indonesia  yang notabene sebagai perusahaan BUMN yang menaungi semua operasional perkeretaapian indonesia tidak boleh menetapkan harga yang mahal. padahal Garuda Indonesia, DAMRI dan PELNI juga perusahaan BUMN dbidang transportasi dan harga mereka termasuk mahal, namun masyarakat masih bisa memahami. entah apa yang menjadi tolak ukur apa yang boleh mahal dan apa yang tidak boleh mahal. ketika orang terpaksa beli tiket pesawat dengan harga mahal, mereka akan bilang “wajar mahal, kan pesawat blablablaaa” pas naik ferry juga mereka akan bilang hal yang sama “wajar mahal, kan ferry blablablaaaaahhh” tapi kenapa kereta api seperti dianak tirikan? kenapa cuma kereta api yang diprotes ketika menetapkan harga yang tinggi? PT KAI, Garuda Indonesia, DAMRI dan PELNI juga perusahaan BUMN

Dari informasi yang saya dapatkan dari berbagai sumber dalam beberapa tahun belakangan ini, saya kaget ketika tahu bahwa biaya perawatan Jalan, Jembatan dan Rel tidak ditanggung oleh pemerintah dengan kata lain menjadi tanggungan PT. Kereta Api Indonesia (Persero) sebagai Operator tunggal perekretaapian indonesia. Sedangkan angkutan darat lain biaya perawatan prasarananya seperti Jalan dan terminal menjadi tanggungan pemerintah, operator hanya menanggung biaya operasional sarana.

Dengan kondisi kereta api yang sudah seperti sekarang sekarang saya heran masih ada yang nuntut kereta api harga tiketnya harus murah.  ketika harga murah, fasilitas sarana dan prasarana jelek pada ngomel. sekarang fasilitas sarana prasarana udah dperbaiki, wajar dong harganya naik? harga menentukan kualitas. iya bener, harga menentukan kualitas. tapi harus diperhatikan juga, apa jangan jangan mutu kualitas yang diberikan PT KAI itu dibawah standar sehingga memunculkan pandangan bahwa harganya tidak sesuai dengan kualitas pelayanan yang diberikan?

Saya sendiri sebagai pengguna KRL CommuterLine Jabodetabek masih sering merasa tidak nyaman, karena ketika jam sibuk masih terjadi kasus penumpang behimpitan, mungkin ini bisa ditolerir, karena memang pada semua jenis transportasi jika jam sibuk pasti terjadi kepadatan, namun bukan hanya itu, saya biasanya beraktivitas di jalur Jakarta kota – Juanda – Manggarai – Sudirman masih sering mengalami tertahan sinyal di Stasiun Gambir dan stasiun Manggarai sehingga perjalanan CommuterLine saya terganggu.

Pihak KAI yang kini sudah ditinggal Ignasius Jonan menghadapi tantangan mengubah pandangan masyarakat bahwa kereta api itu bukan kendaraan umum yang murah lagi. bawah kereta api indonesia sudah berubah, sudah tidak jorok dan kotor seperti dulu lagi, tidak ada lagi penumpang bejubelan ketika masuk stasiun. Kereta api yang “katanya” sudah sejajar dengan pesawat sehingga sudah bisa mematok harga tinggi, apakah benar?

Untuk masalah PSO kereta api ekonomi jarak jauh, saya menggunakan kereta jarak jauh dari bulan maret 2012 hingga sekarang, secara otomatis juga saya merasakan banyak perubahan positif yang dibuat oleh PT Kereta Api Indonesia sebagai operator. Seperti menghilangnya para pedagang asongan di atas kereta, kemudian tidak bejubelnya penumpang karena ada kebijakan okupansi 100%. saya sempat merasakan KA Bengawan yang berangkat dari Stasiun Tanjung Priok pukul 19.00 dan harga tiketnya masih Rp. 37.000 dari Jakarta hingga Solo, kemudian harganya naik menjadi Rp. 50.000 pada akhir 2012 setelah itu sempat naik lagi menjadi Rp. 90.000 karena PSO dicabut, kemudian kembali turun ke tarif Rp. 50.000. kebetulan juga saya ikut dalam forum Semboyan 35 ( www.semboyan35.com )ternyata PSO ini meleset dari target, bukan rahasia umum lagi bahwa di KA Progo sudah ada sebuah komunitas PJKA (Pulang Jumat Kembali Ahad) yang diisi oleh para pekerja jakarta dari Purwokerto, Kroya, Kutoarjo dan Jogjakarta. Mayoritas dari mereka adalah pekerja yang penghasilannya diatas UMR.

Pernah juga saya dapati ketika saya Naik KA Tegal Ekspress yang waktu itu statusnya masih KLB dengan nomor pejalanan 7099 dan 7100, penumpang di sekitar saya itu banyak yang membuka laptop  dan tablet untuk internetan. Apakah ini yang dinamakan Subsidi tepat sasaran? Hal yang sama juga saya lihat di KA Progo, Matarmaja dan Kertajaya.

Sempat juga saya mendapati ada seorang pensiunan mengelu mengenai sulitnya mengakses tiket, karena ketika sudah tiba di stasiun tiket sudah tidak tersedia, beliau sebagai pensiunan dan berada dalam kelas ekonomi menengah kebawah tentu tidak mengerti bagaimana caranya mengakses internet untuk memesan tiket. Sejujurnya menurut saya Sistem online ticketing yang sudah diterapkan oleh PT. Kereta Api Indonesia sudah sangar amat baik, saya pun mendukung program ini. Namun ketika masuk ke tiket subsidi yang mungkin ditujukan untuk rakyat menengah kebawah ada baiknya jika tidak diterapkan dalam sistem ini, karena saya yakin sebagian besar dari mereka tidak paham bagaimana caranya memesan melalui online. Saran untuk segenap jajaran direksi PT. Kereta Api Indonesia yang saya hormati,  mungkin sebaiknya tiket KA Ekonomi PSO tidak bisa diakses melalui online. Karena sebagian kecil saja dari target PSO yang bisa mengakses. Jadi menurut saya subsidi PSO yang ditujukan ke KA Ekonomi jarak jauh dan menengah belum tepat jika masih bisa diakses melalui online.

Saya juga merasakan baiknya Sistem online ticketing, saya dulu lelah ketika harus antri di stasiun selama berjam jam untuk mendapatkan tiket,saya tidak dapat mengetahui berapa sisa seat di kereta  yang saya mau. Saya merasa sakit hati jika tiketnya ternyata sudah habis. Sekarang saya bisa memesan melalui KAI Access, Pesan kemudian bayar di ATM ataupun Payment point dan bisa tukar tiketnya ketika mau berangkat. =

Kemudian tentang evolusi yang diterapkan PT. Kereta Api Indonesia, saya senang sekali dengan make over wajah stasiun, sistem tiketing, perubahan seragam. Pemberian AC pada kelas Ekonomi dan Bisnis. Saya merasakan perubahan yang pesat di kelas Bisnis dan Ekonomi dalam kurun waktu kurang lebih 3 tahun ini. Sayapun merasa tidak rugi jika harus membayar 180rb untuk berangkat dari Jakarta menuju Malang dengan KA Matarmaja, karena harga itu jauh lebih hemat dibanding bis yang masih harus menghadapi kondisi jalan yang tidak pasti. KA Matarmaja pastinya bebas macet dan cenderung bisa diperkirakan keterlambatannya.

Selain itu Saya juga ikut merasa kecewa dengan dihilangkannya warung di dalam peron stasiun Pasar Senen. Karena itu menyulitkan saya dan penumpang lain jika harus membeli makanan ringan atau apapun itu. Saya bersaran alangkah baiknya jika tetap ada warung di dalam peron stasiun Pasar Senen, namun mereka harus diatur dengan baik dengan diberikan kontrak dan peraturan yang jelas, saya yakin mereka juga akan ikut senang dan menuruti peraturan. Penumpang KA ekonomi tentunya tidak bisa membeli makanan di tenant tenant seperti Starbucks, J.Co, Dunkin Donut dsb

Dalam hal ini saya berusaha melihat masalah setidaknya dari 2 sisi, yaitu pihak konsumen dan pihak operator. Kedua belah pihak punya alasan yang kuat mengenai harga dan kualitas ini. menurut saya yang harus dicari adalah keseimbangan. dan saya yakin hal ini akan terselesaikan dengan semakin cerdasnya masyarakat indonesia.

Demikian penyampaian surat saya melalui surat ini kepada Jajaran Direksi PT. Kereta Api Indonesia karena saya peduli dan saya ingin Perkeretaapian Indonesia.

Hormat Saya, Pratito Wibowo

Wassalamualaikum wr.wb